WALHI adalah forum organisasi Non Pemerintah, Organisasi Masyarakat dan kelompok pecinta Alam terbesar di Indonesia.WALHI bekerja membangun gerakan menuju tranformasi sosial, kedaulatan rakyat dan keberlanjutan Lingkungan Hidup.

Kunjungi Alamat Baru Kami

HEADLINES

  • Pengadilan Tinggi Nyatakan PT. BMH bersalah dan Di Hukum Ganti Rugi
  • Walhi Deklarasikan Desa Ekologis
  •   PT. Musi Hutan Persada/Marubeni Group Dilaporkan ke Komisi Nasional HAM
  • PT.BMH Penjahat Iklim, KLHK Lakukan Kasasi Segera
  • Di Gusur, 909 orang petani dan keluarganya terpaksa mengungsi di masjid, musholla dan tenda-tenda darurat

Kamis, Oktober 06, 2011

Floods Expected At Palembang SEA Games Venue, Says Environment Group

JAKARTA, Oct 6 (Bernama) -- A Palembang branch of the Indonesian Forum for the Environment (Walhi) has warned that the rainy season in the region later this month may cause some of the SEA Games venue to be flooded.

Its official Hadi Jatmiko said that the South Sumatran capital had a history of flooding during the wet season and last year alone, Palembang was hit by floods 48 times.

Worse still was the fact that the centerpiece of the Games, the sprawling Jakabaring Sports City, sits on what was formerly swampland, Hadi told english daily Jakarta Globe in its exclusive report Thursday.

"South Sumatra is approaching the end of a long dry season, and according to the BMKG (the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency) the rainy season will start at the end of October. Flooding is expected at the SEA Games venue," he was qouted as saying.

Hadi said Walhi had vehemently opposed the construction of the stadium for the international sports event because it believed the construction would worsen flooding in the city.

Hadi advised the local government to get ready for some major flooding.

Meanwhile Imam Hendargo of Indonesia's Environment Ministry said Jakabaring Sports City, could not have been built without prior analysis of its environmental impact.

Meanwhile the director of the center for climate change and air quality at the BMKG, Edvin Aldrian, confirmed that the rainy season would start in October or November in Palembang.

"I don't know exactly what preparations they have made. It can be handled through man-made rivers, but I don't know what their plans are to anticipate the rainy season," he said.

With just over one month until the Games, organisers are struggling to finish preparations in time and several venues in Palembang, such as the athletics stadium, aquatics centre and baseball field are still far from finished, the report said.

Sumber : http://www.bernama.com/bernama/v5/newsindex.php?id=618075
Selengkapnya...

Flood Warning At Games Venues

After having to deal with construction delays and cashflow woes, Palembang is rushing to complete its facilities for November’s Southeast Asian Games, but more problems are looming on the horizon.

Hadi Jatmiko, from the Palembang branch of the Indonesian Forum for the Environment (Walhi), told the Jakarta Globe on Wednesday that the South Sumatran capital had a history of flooding during the wet season. This year, the rainy season is due to hit the region later this month.

Worse still, Hadi said, was the fact that the centerpiece of the Games, the sprawling Jakabaring Sports City, sits on what was formerly swampland.

“South Sumatra is approaching the end of a long dry season, and according to the BMKG [the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency] the rainy season will start at the end of October,” Hadi said. “Flooding is expected at the SEA Games venue. Last year alone, Palembang was hit by floods 48 times. It was an ecological disaster.”

Hadi said Walhi had vehemently opposed the construction of the stadium for the international sports event because it believed the construction would worsen flooding in the city.

“They built the stadium on a swamp area without regard to the Environmental Impact Analysis [Amdal] or Bylaw No. 5 from 2008 about swamps.” He said the bylaw required developers to leave parts of the area as swampland and to construct buildings with foundations that allowed the swamp to function as a water catchment area.

Hadi advised the local government to get ready for some major flooding.

“The government must make sure it has a stand-by [search and rescue] team to help with the evacuation when the city is inundated, and it must improve the drainage system by building retention ponds immediately,” the activist said.

Imam Hendargo, the Environment Ministry’s deputy for spatial planning, said Jakabaring Sports City, could not have been built without prior analysis of its environmental impact.

“It’s a big project on many hectares, so the Amdal should be one of the requirements to be met,” Imam said.

But he was not sure whether an Amdal had been conducted as the matter was in the hands of a local committee formed by the governor there.

Meanwhile, Edvin Aldrian, the director of the center for climate change and air quality at the BMKG, confirmed that the rainy season would start in October or November in Palembang.

Like Hadi, Edvin also questioned whether the city was anticipating heavy rains.

“The problem is that those areas are swamps and lie very low, just five to seven meters above sea level,” Edvin said.

“I don’t know exactly what preparations they have made. It can be handled through man-made rivers, but I don’t know what their plans are to anticipate the rainy season.”

With just over one month until the Games, organizers are struggling to finish preparations in time. Several venues in Palembang, such as the athletics stadium, aquatics center and baseball field are still far from finished.

Sumber : http://www.thejakartaglobe.com/home/flood-warning-at-games-venues/469856
Selengkapnya...

Penghijauan untuk Menutup Luka Bumi

Rerimbunan akasia dan kayu putih di mulut tambang batubara Airlaya tampak basah oleh hujan yang baru saja reda. Sulit dibayangkan, bukit yang menghijau itu dulunya adalah lubang tambang yang lebar dan dalam ibarat luka di perut Bumi.

Kini, luka itu tak berbekas, tertutup oleh rerimbunan daun pepohonan akasia dan kayu putih. Perusahaan tambang batubara negara, PT Bukit Asam Tbk, mereklamasi lahan itu sekitar awal 1990 setelah eksploitasi usai.

Tak jauh dari sana, tambang Airlaya di Tanjung Enim, Kabupaten Muaraenim, Sumatera Selatan, menyajikan pemandangan yang sangat berbeda. Sebuah ceruk Bumi yang luas dan dalam menganga dengan luas 3.350,5 hektar dengan kedalaman hingga 110 meter di bawah permukaan air laut. Demikian besar dimensinya sehingga berada di dasarnya dengan dikelilingi mesin-mesin tambang, yang juga berukuran raksasa, menimbulkan perasaan kecil dan tak berdaya.

Di kejauhan terlihat lapisan-lapisan batubara laksana emas hitam yang belum juga habis ditambang selama 20 tahun, berselang-seling dengan lapisan tanah coklat kemerahan. Ketebalan setiap lapisan bisa mencapai 8 meter. Eksploitasi masih akan dilakukan di tambang ini hingga sekitar 10 tahun mendatang.

Seperti inilah kira-kira rupa bukit di kawasan tambang Airlaya PT Bukit Asam lebih dari 10 tahun silam. Rumput pun akan sulit hidup dalam ceruk tambang karena lapisan tanah di bawah permukaan sangat miskin unsur hara setelah lapisan tanah permukaan (top soil) yang kaya hara itu dikuliti.

Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam Tbk Achmad Sudarto mengatakan, reklamasi bekas tambang dilakukan dengan mengembalikan lapisan tanah permukaan yang mengandung unsur hara. ”Pada awal penambangan, lapisan atas tanah itu telah sengaja disimpan untuk ditutupkan lagi ke asalnya,” ucapnya, Senin (9/5).

Pupuk organik berisi mikroorganisme ditambahkan untuk meningkatkan kesuburan tanah yang bisa jadi kehilangan kesuburan setelah bertahun-tahun ditambang. Penghijauan bisa disamakan dengan menyembuhkan luka pada Bumi. Tak bisa disangkal, kegiatan penambangan selalu diikuti kerusakan lingkungan yang masif.

Akan tetapi, reklamasi lahan yang dilakukan PT Bukit Asam membuktikan bahwa kerusakan lingkungan itu bisa diminimalkan, bahkan mungkin dengan hasil yang lebih baik. ”Dulunya, kawasan ini adalah lahan yang hanya ditumbuhi alang-alang, tapi sekarang menjadi kawasan hutan,” katanya.

Bukit kecil di area basecamp PT Bukit Asam itu menjadi bukti bahwa kegiatan penambangan dapat dilakukan dengan berwawasan lingkungan. Penghijauan serupa telah dilakukan di beberapa lubang bekas tambang yang dieksplorasi badan usaha milik negara dengan produksi 12,9 juta ton batubara itu pada tahun 2010.

Kesungguhan PT Bukit Asam dalam mengelola lingkungan pasca-penambangan menghasilkan penghargaan tingkat nasional Proper Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup karena dinilai telah berhasil menghutankan kembali lahan-lahan bekas tambang. Bukit Asam juga mempunyai pusat pembibitan seluas lebih kurang 2 hektar. Pada 2008, BUMN yang mulai beroperasi sejak 1980 itu menerima sertifikat manajemen lingkungan berstandar internasional ISO 14001:2004.

Biaya tinggi
Selain perencanaan matang, pengelolaan lingkungan pasca-penambangan ini membutuhkan biaya tinggi. Untuk mendanainya, PT Bukit Asam menyisihkan Rp 4.200 dari setiap ton batubara yang diproduksi. Saat ini dana yang telah terkumpul mencapai hampir Rp 200 miliar. ”Bukit Asam sudah mencanangkan penambangan selaras lingkungan sejak sebelum 1990. Saat itu, isu lingkungan sangat kuat,” kata mantan Direktur Utama PT Bukit Asam Ambyo Mangunwidjaya.

Sebuah rencana besar menutup luka Bumi tengah digarap Bukit Asam. Lubang-lubang bekas tambang di Tanjung Enim akan disulap menjadi Taman Hutan Rakyat Enim (Tahura Enim) dengan luas 5.394 hektar, meliputi 3.350,5 hektar tambang Air Laya dan 2.044,1 hektar di bekas tambang Banko Barat. Rencananya, Tahura Enim yang terdiri dari bumi perkemahan dan hutan wisata itu akan dapat dinikmati tahun 2043.

Memang masih lama. Tambang Air Laya yang masih mengandung miliaran ton batubara baru akan selesai ditambang sekitar 10 tahun ke depan. Lubang tambang yang diperkirakan akan mencapai kedalaman 200 meter di bawah permukaan air laut rencananya akan dibiarkan terbuka sebagian untuk membentuk danau buatan.

”Setelah kegiatan penambangan selesai, harapannya daerah ini tetap terjaga kesuburannya. Hutan yang nantinya tumbuh diharap dapat menjadi pusat kegiatan wisata. Kami tak ingin meninggalkan kota mati setelah penambangan selesai,” kata Sudarto.

Penghijauan PT Bukit Asam adalah kisah manis di antara kisah-kisah pahit mengenai pertambangan batubara. Masih banyak perusahaan penambangan batubara yang belum peduli pada lingkungan. Mereka menggerus kulit Bumi dan membiarkan luka terus menganga.

Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel, selama tahun 2009 terdapat 229 kuasa penambangan (KP) batubara yang dikeluarkan di seluruh wilayah Sumsel dengan luas mencapai lebih kurang 2,4 juta hektar. Usaha penambangan batubara memang kian marak sejak otonomi daerah memberi kewenangan pemerintah daerah menerbitkan KP batubara kepada swasta.

Kebijakan ini, kata Kepala Divisi Pengembangan Sumberdaya Organisasi Walhi Sumsel Hadi Jatmiko, sangat berbahaya bagi lingkungan. Dampak lingkungan akibat kegiatan penambangan semakin sulit dikendalikan. Bahkan, beberapa KP terbit tanpa melalui proses analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) yang memadai. ”Sungai Enim telah tercemar, salah satunya karena limbah penambangan ini. Belum lagi tanah yang tak bisa lagi ditanami,” katanya.

Selama ini, kegiatan pertambangan identik dengan kerusakan lingkungan. Telah banyak kisah soal kota-kota mati setelah sumber daya alamnya habis ditambang. Lubang galian ditinggalkan tak terurus dan daya dukung lingkungan yang rusak, seperti air yang tercemar maupun tanah yang tak subur lagi. Kisah soal masyarakat lokal yang kian miskin karena kehilangan daya dukung ekonomi setelah lingkungannya rusak parah ditambang pun tak lagi asing di telinga.

Di satu sisi, penambangan menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Namun, tanpa pengelolaan lingkungan yang benar, kemilau tambang ini hanya akan bertahan sesaat. Selebihnya, luka-luka Bumi akan membuat masyarakat semakin merana. Meski belum sempurna, setidaknya sebuah bukit menghijau di Air Laya menjadi bukti bahwa harapan penambangan yang lebih baik itu ada.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2011/08/12/04382891/Penghijauan.untuk.Menutup.Luka.Bumi 
Selengkapnya...

Dalam Bayang-bayang Kepekatan Kabut Asap

Pagi di Sungai Musi selama sekitar sebulan terakhir kehilangan kesegarannya. Udara terasa berat. Cahaya pun temaram meski matahari mulai tinggi. Fajar hanya samar-samar merekah di balik kabut asap di tengah kesibukan persiapan akhir SEA Games yang akan digelar 11-22 November 2011. 

Dari plaza Benteng Kuto Besak di tepi Sungai Musi, Jumat (30/9) pagi, Jembatan Ampera yang biasanya tampak jelas hanya tampak samar-samar sebagai sebentuk siluet kabur. Perahu dan kapal mengambang perlahan seiring memendeknya jarak pandang. 

Gangguan kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, yang membuat sesak napas dan mata pedih itu mengusik kenyamanan warga. Dinas Kesehatan Kota Palembang melaporkan, ribuan warga menderita infeksi saluran napas akut selama musim kemarau yang berkabut asap tahun ini. 

Kabut asap putih kelabu dengan bau menyengat biasanya mulai datang sore hari, dan baru menipis menjelang siang keesokan harinya. Bersamanya terembus pula partikel-partikel debu sisa kebakaran lahan yang semarak di seantero Sumsel. 

Tak hanya kehidupan masyarakat, kabut asap pun membayangi persiapan SEA Games di Palembang yang saat ini memasuki tahap akhir. Terganggunya kegiatan telah dilaporkan beberapa pihak. 

Uji coba maraton, Sabtu (24/9) pagi, di kawasan Jaka- baring, Palembang, berlangsung di tengah pekatnya kabut asap. Belasan atlet maraton harus mengeluarkan energi ekstra saat menempuh lintasan sepanjang sekitar 42 kilometer. Jarak pandang saat itu tidak lebih dari 200 meter. 

”Bahkan, tepian jalan sudah tak terlihat lagi karena tebalnya kabut. Beberapa atlet mengeluh napas sesak dan sulit melihat jalan di depannya,” kata Ketua Pelaksanaan Cabang Olahraga Atletik SEA Games XXVI Sri Hastuti Merdiko. 

Pada hari yang sama, gangguan juga terjadi pada uji coba cabang olahraga petanque. Vice President International Federation of Petanque Suponnarth Lamlert terlambat karena penerbangannya dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, ditunda selama sekitar satu jam akibat kabut asap pekat. 

”Pesawat saya seharusnya terbang pukul 06.30, tetapi baru terbang pukul 07.30. Petugas bilang, penundaan karena kabut asap yang pekat,” ujar lelaki asal Thailand itu. 

Saat itu, lima penerbangan dari dan ke Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang ditunda karena jarak pandang di bandara internasional itu hanya sekitar 300 meter. Jarak pandang aman minimal 800 meter. 

Kekhawatiran gangguan kabut asap terus membayangi persiapan SEA Games. Sri Hastuti Merdiko mengatakan, jika kabut asap tak teratasi menjelang November, tim teknik bisa jadi akan meminta alternatif lokasi lain. Hal ini tentunya sangat merepotkan mengingat waktu yang kian sempit. 

Pada 1-28 September, jumlah titik panas di Sumsel mencapai 3.047 titik. Luas kebakaran hingga Oktober ini mencapai sekitar 1.883,9 hektar seperti tercatat di Sekretariat Manggala Agni Sumsel, yang terdiri dari 1.805 hektar lahan perkebunan dan 78,9 hektar hutan. Sebanyak 70 persen kebakaran lahan ditemukan di lahan perkebunan. 

Gambut kering
Kepala Divisi Pengembangan Sumber Daya Organisasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sumsel Hadi Jatmiko mengatakan, kebakaran di lahan gambut dipicu rusaknya lingkungan. ”Sekarang ini banyak rawa gambut dikeringkan dan diubah menjadi perkebunan. Karena kering, lahan gambut menjadi sangat mudah terbakar dan meluas seperti yang terjadi sekarang ini,” ujarnya. 

Luas lahan gambut di Sumsel sekitar 1,4 juta hektar, dan sebagian telah menjadi area perkebunan. Sebagai calon batubara, gambut sangat mudah terbakar, dan jika sudah terbakar akan sulit padam.
Menurut Kepala Penanggulangan Kebakaran Lahan dan Hutan Dinas Kehutanan Sumatera Selatan Achmad Taufik, kebakaran juga dipicu kebiasaan membuka lahan dengan membakar. ”Ada indikasi pembakaran sengaja dilakukan,” ujarnya. 

Demi mengamankan SEA Games, berbagai upaya dilakukan. Tanggap darurat bencana kabut asap dicanangkan Gubernur Sumsel Alex Noerdin, yang diikuti pemadaman darat dan bom air. Puluhan ton garam dapur disemai dalam program hujan buatan sejak 12 September. 

Dua pekan pertama, program ini memang mampu menurunkan jumlah titik panas dari 368 titik pada 11 November menjadi puluhan saja. Namun, pekan terakhir September, program ini terkendala cuaca yang kering. 

”Awan kumulus yang dibutuhkan sebagai bahan baku utama hujan buatan sulit ditemukan. Kami sempat menghentikan penyemaian karena akan sia-sia,” kata Koordinator Pelaksana Hujan Buatan di Sumsel Sunu Tikno. 

Kemurahan alam tampaknya tetap menjadi harapan terakhir untuk mengatasi kabut asap.


Sumber : http://regional.kompas.com/read/2011/10/03/05182579/Dalam.Bayang-bayang.Kepekatan.Kabut.Asap Selengkapnya...