WALHI adalah forum organisasi Non Pemerintah, Organisasi Masyarakat dan kelompok pecinta Alam terbesar di Indonesia.WALHI bekerja membangun gerakan menuju tranformasi sosial, kedaulatan rakyat dan keberlanjutan Lingkungan Hidup.

Kunjungi Alamat Baru Kami

HEADLINES

  • Pengadilan Tinggi Nyatakan PT. BMH bersalah dan Di Hukum Ganti Rugi
  • Walhi Deklarasikan Desa Ekologis
  •   PT. Musi Hutan Persada/Marubeni Group Dilaporkan ke Komisi Nasional HAM
  • PT.BMH Penjahat Iklim, KLHK Lakukan Kasasi Segera
  • Di Gusur, 909 orang petani dan keluarganya terpaksa mengungsi di masjid, musholla dan tenda-tenda darurat

Sabtu, Oktober 15, 2011

Banjir Juga Oleh Manusia


PALEMBANG,  --- Banjir, tampaknya akan menjadi sesuatu hal yang akrab dialami masyarakat Kota Palembang. Pasalnya, banjir bukan hanya disebabkan faktor alam. Tetapi, juga faktor manusia. Kebiasaan buruk manusia yang tidak menghiraukan keberlangsungan ekosistem lingkungan. Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumsel, Anwar Sadad mengatakan, jika Kota Palembag rawan banjir itu menjadi suatu keniscayaan. "Terjadinya banjir ini bukan harus dilihat dari iklim saja. Tetapi harus dilihat dari lingkungan yang saat ini telah terdegradasi akibat pembangunan yang tanpa memperdulikan tata ruang", ujarnya di Kantor Walhi Sumsel, kemarin (13/10).

Palembang merupakan suatu kota yang menjadi daerah serapan air terbaik, karena memiliki daerah rawa. "Jumlah rawa di Kota Palembang saat ini sudah banyak berkurang. Dahulu terdapat 22 ribu hektare daerah rawa. Namun, saat ini hanya terdapat 6.000 hektare rawa yang ada di Kota Palembang", ungkapnya. Terjadinya degradasi lingkungan tersebut, ditegaskan Anwar diperparah dengan mental masyarakat yang terus melakukan penghancuran terhadap rawa yang tanpa memperdulikan lingkungan. "Rawa ini ada beberapa jenis yakni rawa konservasi, reklamasi dan budidaya", katanya. Menurut Sadad, pembenahan ekosistem sangat penting, terutama soal memastikan tata ruang dan perlindungan-perlindungan terhadap rawa yang masih ada.

Sementara itu, Melanie Subono, aktris juga pemerhati lingkungan yang kemarin hadir di kantor Walhi Sumsel mengungkapkan, jika terjadinya banjir maka yang harus disalahkan itu bukanlah orang lain tapi diri sendiri. "Jangan saling menyalahkan. Kita harus menyalahkan diri sendiri karena akibat kita inilah ekosistem menjadi rusak", katanya.

Sumber : Sumatera Ekpres
Selengkapnya...

Melanie Subono tanam trembesi di halaman kantor Walhi

Palembang  - Melanie Subono, artis yang juga Sahabat Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), menanam pohon trembesi di kantor sekretariat organisasi forum LSM itu di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis.

"Saya konsen terhadap kelestarian lingkungan, karena itu mari bersama-sama menanam pohon sebagai simbol menjaga ekologi," kata dia.

Melanie menjelaskan, sebenarnya tidak susah berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan, antara lain dengan menjaga kebersihan juga merupakan bentuk partisipasi nyata.

Setiap orang membuang sampah pada tempatnya merupakan salah satu bentuk partisipasi menjaga lingkungan dari bencana ekologi, ujar dia.

Menurut dia, bencana ekologi dan kemacetan lalu lintas yang saat ini terjadi hampir di setiap kota besar termasuk Palembang, merupakan bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan semakin rendah.

Setiap pribadi tentunya berkontribusi terhadap permasalahan tersebut, karena itu mari bersama-sama bekerja nyata dengan menjaga kelestarian lingkungan, kata dia lagi.

Melanie hadir di Palembang dalam rangkaian kegiatan ulang tahun Walhi ke-31 di Sumsel.

Selain menanam pohon, Melanie juga menampilkan sejumlah tembang di hadapan puluhan personel Sahabat Walhi di Palembang bersama para tamu dan undangan lainnya.

Perayaan ulang tahun Walhi tersebut dilaksanakan di sebuah kafe di kawasan Kambang Iwak Palembang yang juga dimeriahkan pembacaan puisi lingkungan hidup serta penampilan band lokal.

Walhi Sumsel dalam kesempatan ini, juga memberikan penghargaan kepada kalangan media massa, yaitu LKBN ANTARA Biro Sumsel dan RRI Palembang, karena dinilai berperan nyata dalam mendukung kampanye pemulihan lingkungan hidup di daerahnya melalui pemberitaannya.

Penghargaan juga diberikan kepada kalangan individu yang dinilai peduli pada kelestarian lingkungan di daerah ini


Sumber : www.Antaranews.com Selengkapnya...

Sabtu, Oktober 08, 2011

1.200 Ha Lahan Pertanian Terancam Hilang


PALEMBANG– Ratusan petani, warga Desa Nusantara Jalur 27, Air Sugihan OKI, terancam gagal panen. Pasalnya, 1.200 hektare (ha) lahan pertanian mereka terancam digusur PT Selatan Agro Makmur Lestari (SAML).

Menurut Koordinator Forum Petani Nusantara Anwar Sadat, sebanyak 1200 ha tanaman padi warga bakal hilang lantaran kehadiran PT SAML.Alasannya, karena warga yang sudah menempati lokasi sejak 10 tahun lalu dianggap menempati lahan pertanian mereka. ”Tidaksedikitbentukintimidasi yang dilakukan PT SAML untuk mengusir warga.Namun, warga memilih bertahan dan ingin memperjuangkan apa yang diusahakan sejak lama,” kata dia saat dibincangi di GedungDPRDSumselkemarin.

Direktur Walhi Sumsel itu mengatakan, selain menurunkan alat berat yang merusak tanaman padi, perusahaan itu juga melibatkan aparat untuk menakuti warga. Tujuannya agar bisa mengganggu kenyamanan penduduk, sehingga warga tersebut memilih pindah ke lokasi lain. ”Kami tahu negara melalui Undang-undang No 22 juga mengatur perlindungan lahan pangan berkelanjutan.

Itu sebabnya kami hadir dan mengadukan nasib ke Komisi II DPRD Sumsel dengan harapan bisa mendapatkan kembali lahan warga,”tuturnya. Kemudian, sambung Sadat, hasil dari dengar pendapat di Pemprov Sumsel,yang dihadiri Kepala BPN (Badan Pertanahan Negara) Sumsel pada 26 September lalu, ternyata diketahui bahwa PT SAML tidak memiliki Hak Guna Usaha (HGU).

Sehingga Sadat yakin lahan yang sudah diusahakan warga secara turun menurut itu bisa di-enclave. Sementara, Sekretaris Forum Petani Nusantara Sukirman mengungkapkan, pada awalnya tanah tempat mereka hidup adalah Lahan APL (Areal Penggunaan Lain). Namun sejak tahun 1980, banyak warga yang datang dari Jawa dan mulai bercocok tanam di lahan areal APL yang banyak hama dan binatang buas. Akhirnya u lahan yang mereka sejak tahun 2005 itu menghasilkan.

Namun anehnya,ujar Anwar Sadat,pada 2007 turun izin prinsip PT SAML dan menurunkan alat berat saat padi sedang berisi. ”Kami sempat mengalami kerugian besar ketika alat beras merusak padi kami yang sedang bunting (berisi).Namun, kami sempat melakukan perlawanan demi mempertahankan padi kami,”ungkap Sukirman.

Menyikapi permasalahan tersebut, Sekretaris Komisi II DPRD Sumsel Saifurrahman mengatakan,dewan sudah menerima keluhan yang disampaikan warga. Untuk itu dewan akan berusaha mewujudkan harapan petani di Air Sugihan OKI. ”Hal pertama yang akan kami lakukan yakni berkerja sama dengan Komisi I karena masih menyangkut lahan,”kata dia. Namun, karena ini merupakan lahan pertanian tanaman pangan, Komisi II perlu ikut campur.

Sebab,akan sangat merugikan jika lahan pangan pertanianinibergantidenganlahan perkebunan.“Terlebih bila melihat kondisi krisis pangan yang terjadi saat ini,”katanya. Tentang intimidasi masih terus berlangsung, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu membenarkan masih kerap terjadi.

Meskipun pada 2008–2009 sempat tidak ada intimidasi karena perusahaan tidak melakukan aktivitas, sejak 2010 sampai sekarang, terjadi lagi aktivitas sehingga mengganggu lahan warga

Sumber : Seputar Indonesia Selengkapnya...

Inasoc Belum Antisipasi Banjir di Venue SEAG

Palembang merupakan kota yang rentan banjir, dan Jakabaring dibangun di bekas rawa-rawa.

Masalah baru muncul sebelum SEA Games XXVI berlangsung di Jakarta dan Palembang, 11-22 November 2011. Venue di kompleks Jakabaring, Palembang terancam banjir karena musim hujan akan datang pada Oktober atau November.

Peringatan banjir ini dikatakan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Ini berdasarkan fakta Palembang merupakan kota yang rentan banjir, dan Jakabaring dibangun di bekas rawa-rawa.

Namun, dengan fakta seperti ini, belum ada solusi pencegahan dari Panitia Penyelenggara SEA Games Indonesia (Inasoc). Menurut Ketua Deputi I Sport and Venue Inasoc, Djoko Pramono, hal ini harusnya sudah ditanggulangi sejak pembangunan venue dimulai oleh para ahli konstruksi.

"Menurut tim saya tidak ada masalah. Untuk masalah ini, saya sebelumnya sudah minta pada Bapak Menteri (Menpora) agar dibuatkan bukan cuma tim olahraga, tapi juga tim ahli konstruksi," kata Djoko pada VIVAnews, Jumat 7 Oktober 2011.

"Kita sudah tahu di sana (Jakabaring) bekas rawa. Tentu saja bagi para pemenang tender semua sudah diperhitungkan karena mereka ahli-ahli konstruksi," tambahnya.

Namun, jika memang terjadi banjir, Djoko mengaku belum ada rencana cadangan. "Mau kemana lagi, ya sudah nanti kalau banjir di sana disiapkan perahu karet saja," kata Djoko sambil tertawa.

Pengerjaan venue memang jadi fokus utama SEA Games 2011. Sebab, hingga 35 hari sebelum hari-H masih banyak venue yang belum rampung atau pun melengkapi standar internasional. Di luar masalah venue, Indonesia sebagai tuan rumah menargetkan keluar sebagai juara umum. 

Sumber http://sport.vivanews.com
Selengkapnya...