PALEMBANG – Guru besar sekaligus Dekan Fakultas Hukum (FH) Unsri Amzulian Rifai menyatakan,buruknya sistem administrasi pertanahan di Indonesia sebagai penyebab terjadinya konflik lahan di Sumsel. Karena itu, dia meminta pemerintah segera membenahinya. “Selama sistem administrasi pertanahan masih seperti ini, sampai dunia kiamat pun persoalan tanah pasti akan terus terjadi atau tidak pernah selesai,” ujar Amzulian seusai diskusi publik tentang rancangan undang-undang pengadaan tanah di Aula FH Unsri kemarin. Salah satu sistem administrasi yang harus diperbaiki adalah prosedur pembuatan sertifikat tanah. Pemerintah harus mempermudah dan mempermurah pembuatan dokumen tersebut. “Banyak orang-orang kampung yang saat ini sering kali menjadi korban perusahaan yang tanahnya terkesan diserobot, atau haknya tanahnya diakui milik perusahaan tersebut lantaran tidak memiliki sertifikat resmi dan hanya mengetahui itu adalah tanahnya karena telah ditempatinya selama bertahun tahun,” urainya. Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah perbaikan, pembangunan di Sumsel dapat terhambat. Sebab, masing-masing pihak dapat saling menyalahkan dan memicu konflik baru. Akibatnya, investor enggan menanamkan modalnya. “Padahal,dengan semakin banyak aktivitas perekonomian seperti saat ini, sangat tidak mungkin jika seseorang berani mengklaim memiliki lahan ratusan hektare secara pribadi,”tandasnya. Sementara itu, Direktur Eksekutif Walhi Sumsel Anwar Saddat mengatakan, rentetan konflik lahan yang terjadi di Sumsel disebabkan karena tidak adanya komitmen atau keseriusan untuk menegakkan aturan. ali alfarizi |
Artikel Terkait:
Berita-berita
- Kejahatan Trans National Corporations dalam kebakaran hutan dan lahan di Indonesia Dibawa ke Jenewa
- Jadi Desa Ekologis di Sumsel : Berkonflik Panjang, Nusantara Menjaga Padi dari Kepungan Sawit
- Hari Pangan Se-Dunia, Walhi dan masyarakat Sipil Deklarasikan Nusantara Menuju Desa Ekologis.
- Pidato Sambutan Direktur Walhi Sumsel dalam Peringatan Hari Pangan Se-Dunia dan Deklarasi Nusantara Menuju Desa Ekologis
- Bahaya Hutang Bank Dunia Dalam Proyek KOTAKU
- Melanggar HAM, PT. Musi Hutan Persada/Marubeni Group Dilaporkan ke Komisi Nasional HAM
- Sinarmas Forestry company found guilty of unlawful conduct by High Court over peat fires
- Diduga Rugikan Negara Rp3,6 Triliun, Walhi Laporkan Perusahaan Sawit dan Tambang ke KPK
- Peringati Hari Bumi, Walhi secara Nasional Gelar Karnaval di Palembang
- Indonesia suffers setback in fight against haze after suit rejected
0 komentar:
Posting Komentar