WALHI adalah forum organisasi Non Pemerintah, Organisasi Masyarakat dan kelompok pecinta Alam terbesar di Indonesia.WALHI bekerja membangun gerakan menuju tranformasi sosial, kedaulatan rakyat dan keberlanjutan Lingkungan Hidup.

Kunjungi Alamat Baru Kami

HEADLINES

  • Pengadilan Tinggi Nyatakan PT. BMH bersalah dan Di Hukum Ganti Rugi
  • Walhi Deklarasikan Desa Ekologis
  •   PT. Musi Hutan Persada/Marubeni Group Dilaporkan ke Komisi Nasional HAM
  • PT.BMH Penjahat Iklim, KLHK Lakukan Kasasi Segera
  • Di Gusur, 909 orang petani dan keluarganya terpaksa mengungsi di masjid, musholla dan tenda-tenda darurat

Senin, September 19, 2011

Hujan, Belum Padamkan Hotspot di Sumsel

Hotspot Sumsel,18 Sepy 2011,104 Titik
Hujan yang telah menguyur Propinsi Sumatera Selatan beberapa hari yang, ternyata belumlah dapat memadamkan Hot spot yang tersebar di berbagai Kabupaten yang ada di Sumsel. Hal ini dinyatakan oleh Kepala Divisi Pengambangan dan Pengorganisasian Rakyat (PPER) Walhi Sumsel, Hadi Jatmiko. pada Hari ini (senin,19/8) di Palembang. Menurut Hadi berdasarkan pantauan dan Informasi yang didapat Rekaman Satelit Terra dan Aqua yang di terima Walhi. Jumlah Titik Api tertanggal 18 September masih ditemukan sekitar 104 titik, artinya seperti yang di khawatirkan Walhi Seblumnya bahwa Hujan Buatan yang menggunakan dana mencapai 10 Milyar dari Dana APBN/D tersebut,tidak efektif dan bisa dikatakan Sia Sia. Belum lagi rumor yang berkembang tentang Hujan yang menguyur Sumatera Selatan beberapa hari yang lalu, diyakinai banyak kalangan ahli,bukanlah hasil dari Hujan Buatan tetapi benar benar hujan yang terjadi secara Alamiah. 
"Dampak dari masih banyaknya Hotspot tersebut, dimalam hari ASAP masih menyelimuti Propinsi Sumsel terkhusus Kota palembang." Ungkap Hadi.
Atas Dasar Hal itu seperti yang telah dinyatakan WALHI sebelumnya,WALHI tetap Menuntut kepada Pemerintah untuk Melakukan tindakan Konkrit yang efeknya lebih mengena dan cepat, berupa Penegakan Hukum sesuai UU No 4 Tahun 200 dan UU 32 Tahun 2009, terhadap Perusahaan Perkebunan dan HTI yang selama ini dilahan mereka terdapat titik api. Dan faktanya ditambahkan oleh Hadi "Kebakaran Hutan dan lahan di tahun ini di dominasi dilkkukan,atau berada di Lahan milik Perusahaan. " Pungkasnya

TABEL HOTSPOT DI SUMSEL,18 September 2011

NoWilayaLintaBujurTanggalT.Key
1Sumsel-3,82105,4418/09/2011100
2-3,81105,4418/09/2011100
3-3,63104,0518/09/2011100
4-3,59104,2618/09/2011100
5-2,44103,4318/09/2011100
6-1,83103,9418/09/201111
7-3,32105,6018/09/201115
8-2,68103,4118/09/201116
9-3,41105,5618/09/201122
10-3,48105,7718/09/201128
11-2,77105,5018/09/201130
12-3,79105,6518/09/201130
13-2,88104,8118/09/201131
14-3,80104,4418/09/201132
15-4,01105,6318/09/201134
16-3,38104,9918/09/201135
17-3,56105,6618/09/201136
18-2,06104,0018/09/201136
19-4,16103,8818/09/201139
20-3,54105,7518/09/201139
21-3,81104,4518/09/201139
22-3,39105,0918/09/201140
23-3,44105,7218/09/201140
24-4,76103,9118/09/201142
25-4,48104,1818/09/201142
26-2,43103,4418/09/201142
27-2,99105,3518/09/201143
28-3,56105,6318/09/201143
29-2,73103,0318/09/201143
30-2,01104,0118/09/201144
31-4,08104,0418/09/201147
32-3,73104,6418/09/201147
33-3,02104,3618/09/201147
34-3,37105,0118/09/201149
35-4,38104,1518/09/201149
36-3,37105,0018/09/201149
37-3,16105,0318/09/201150
38-4,16103,8918/09/201151
39-3,62105,7818/09/201152
40-3,41104,7118/09/201153
41-2,76105,5118/09/201154
42-4,75103,9118/09/201155
43-4,18103,9318/09/201155
44-3,00103,9518/09/201155
45-2,07103,9218/09/201157
46-3,40105,0918/09/201157
47-2,42103,1218/09/201158
48-4,27104,0618/09/201159
49-2,90104,2318/09/201161
50-3,77105,7818/09/201162
51-3,76105,7818/09/201162
52-3,40104,6918/09/201162
53-3,35105,7518/09/201163
54-3,77103,3818/09/201164
55-2,71103,4918/09/201164
56-2,76105,5018/09/201165
57-3,68104,2818/09/201165
58-3,64104,0418/09/201165
59-2,44103,4418/09/201165
60-2,68103,4218/09/201167
61-3,98103,8318/09/201168
62-3,22103,3918/09/201168
63-3,94104,3018/09/201169
64-4,12103,7318/09/201169
65-3,54105,5318/09/201169
66-4,11104,2318/09/201171
67-4,15104,4818/09/201172
68-3,47105,2418/09/201172
69-2,67103,4218/09/201172
70-3,39105,0818/09/201173
71-3,23103,3818/09/201174
72-3,23103,3818/09/201174
73-2,01103,9218/09/201175
74-2,02103,9218/09/201175
75-2,76105,5118/09/201176
76-2,97105,2818/09/201176
77-3,73103,9618/09/201176
78-3,59104,2518/09/201176
79-4,48104,2318/09/201178
80-4,48104,2218/09/201178
81-3,77105,7918/09/201178
82-3,64104,0518/09/201178
83-4,15104,4718/09/201179
84-2,77105,5118/09/201180
85-4,61104,2118/09/201180
86-4,13103,7018/09/201180
87-2,74103,0218/09/201180
88-4,15104,4718/09/201181
89-4,76103,9118/09/201183
90-3,77105,7818/09/201183
91-2,92103,6918/09/201183
92-4,65104,2218/09/201184
93-3,40104,7118/09/201184
94-3,62105,7918/09/201185
95-4,48104,2218/09/201188
96-3,41103,9418/09/201188
97-3,41104,7018/09/201189
98-3,45103,8018/09/201189
99-4,13103,7218/09/201190
100-3,79103,9118/09/201191
101-3,75103,4118/09/201191
102-3,82105,4318/09/201194
103-3,80103,9118/09/201194
104-3,41103,9518/09/201194




Selengkapnya...

Sabtu, September 17, 2011

Pasca Penyemaian, Palembang Diguyur Hujan

PALEMBANG– Koordinator Hujan Buatan Unit Pelaksana Teknis BPPT Sunu Tikno menuturkan hujan cukup deras lebih kurang setengah jam mencapai 10 mm/jam terjadi di Kota Palembang, kemarin. Hujan mengguyur beberapa wilayah Kota Palembang diantaranya kawasan Bukit Lama, Dempo Luar IT I,hingga Jalan Merdeka IT I, Kertapati serta sebelah Selatan Bandara SMB II. Selain itu hujan gerimis terjadi di arah Angkatan 45, dan Sekip. Namun demikian,dirinya menyesalkan jumlah hostpot kembali meningkat dibandingkan hari Selasa (13/9) yang hanya terdapat 5 titik.

Kemarin, jumlah hotspot menjadi 80 titik yang sangat memerangaruhi tingkat ketebalan asap. “Karena itu menjadi tantangan kita lagi untuk bisa mengurangi, minimal memadamkan hotspot baru yang mucul. Bisa dikatakan adanya sumber kebakaran baru yang kemarin tidak terlihat, hari ini (kemarin) terlihat seperti di daerah OKI, Muaraenim dan sebagian Muba. Untuk itu besok (hari ini) tetap kita rencanakan melakukan penerbangan,” ujar Sunu. Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Sumsel Sigit Wibowo menilai puncak hotspot sudah mengganggu kehidupan masyarakat. “Upaya pemadaman terus dilakukan seperti hari ini (kemarin) kita melakukan pemadaman titik api melalui udara dengan membuat hujan untuk menekan jumlah titik api yang tumbuh secara sporadis. Sosialisasi kepada masyarakat supaya tidak melakukan pembakaran lahan terus disampaikan. Karena dinsyalir kebakaran hutan dan lahan dilakukan oknum msyarakat,” ujarnya.

Jangan Salahkan Masyarakat
Aktivis Lingkungan Walhi Sumsel Hadi Jatmiko berharap pemerintah daerah tidak selalu menyalahkan masyarakat terkait hutan dan lahan yang terbakar.Menurut Hadi, berdasarkan analisis yang dilakukan Walhi Sumsel sejumlah lokasi titik api berada di lahan gambut yang masuk dalam lahan konsesi perusahaan hutan tanaman industri (HTI) dan perkebunan kelapa sawit yang telah existing (aktif) maupun nonaktif (pra dan pasca).

“Jadi permasalahan kabut asap jangan hanya dibebankan kepada masyarakat dengan berbagai dugaan pembakaran lahan sebagai upaya untuk pembukaan lahan garapan. Sebab fakta yang ada menunjukkan kawasan perkebunan cenderung lebih banyak titik api ketimbang dilahan masyarakat,” ujarnya. Dia menegaskan, kejadian kebakaran lahan dan hutan di Sumsel berlangsung setiap tahun. Namun upaya peringatan yang dilakukan berbagai lembaga penelitian dan organisasi nonpemerintah (Ornop/NGO/ LSM) ditingkat Sumsel maupun nasional tidak pernah ditanggapi serius oleh pemerintah daerah.“ Banyaknya titikapidiSumsel menunjukkan bahwa Pemprov Sumsel sesungguhnya belum layak menerima penghargaan dari Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan pada 18 Juli lalu di Jakarta,”tukasnya.

Sementara itu, pengamat politik Sumsel dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Joko Siswanto menilai untuk membuat peraturan daerah (Perda) pelarangan pembakaran hutan dan lahan yang dilakukan oknum masyarakat perlu dilakukan pengkajian.“Sebab saat ini di Indonesia antara perda dan Undang-Undang saling tumpang tindih,”jelasnya. Joko pun menyesalkan keterlambatan kalangan DPRD Sumsel dalam merencanakan pembuatan raperda pelarangan pembakaran hutan dan lahan saat musim kemarau tiba. “Ya mengapa DPRD baru sadarnya sekarang saat pembakaran lahan menimbulkan dampak yang besar.Padahal munculnya dampak tersebut terjadi setiap tahun, ”pungkasnya. 

Sumber:seputar Indonesia


Selengkapnya...

Perairan Sungai Musi Masih Diselimuti Kabut Asap

Kabut asap masih menyelimuti perairan Sungai Musi, Palembang, Sumatra Selatan, Kamis (15/9). Padahal, Rabu petang kemarin wilayah tersebut sempat diguyur hujan lebat.

Margono (38), nakhoda bus air di Sungai Musi, mengatakan kabut asap sangat dirasakan terutama di kawasan Pulo Kemaro dan Pulokerto yang berada di perbatasan Palembang dengan kabupaten Ogan Ilir dan Banyuasin.

Menurutnya, kabut asap menyelimuti perairan sepanjang hari, bukan hanya pagi atau sore. Jarak pandang yang terhalang terjadi terutama pagi dan sore akibat kabut asap sangat tebal. Kondisi itu tetap dirasakan sampai saat ini, meskipun hujan mulai turun.

Ia berharap, kabut asap segera berkurang, sehingga laju transportasi air tersebut tidak terganggu. Apalagi saat ini pengguna jasa bus air itu mulai ramai terutama pada akhir pekan. Sebagian besar pengguna bus air berasal dari luar Kota Palembang yang khusus datang berwisata menikmati panorama Sungai Musi.

Sebelumnya, Kepala Divisi Pengembangan dan Pengorganisasian Rakyat (PPER) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel, Hadi Jatmiko mengatakan, kabut asap disebabkan oleh pembakaran hutan yang sebagian besar terjadi di kawasan hutan milik perusahaan yang beroperasi di daerah ini.

"Perusahaan yang terlibat dalam pembakaran hutan tersebut, semestinya bertanggung jawab untuk memadamkan api akibat pembakaran lahan bukan pemerintah yang membiayainya," kata dia.

Dia menambahkan, pemerintah seharusnya tidak mengeluarkan uang rakyat untuk membuat hujan buatan, karena perusahaan yang mesti bertanggung jawab. Namun, tampaknya Pemprov Sumsel cenderung tidak berani meminta pertanggungjawaban perusahaan perkebunan yang bisa dipastikan menyumbang sebagian besar kebakaran hutan yang terjadi di daerah ini.

Walhi Sumsel juga menilai, kebijakan hujan buatan di Sumsel yang dibiayai dari APBN/APBD adalah kebijakan yang kurang tepat dan hanya berdampak sesaat. Seharusnya pemerintah dapat mengatasi masalah kabut asap dan kebakaran hutan dan lahan itu secara komprehensif atau menyeluruh, bukan menangani akibatnya tanpa mencari tahu dan menangani penyebabnya.

Hingga Kamis ini, kendati hujan telah turun di Palembang, sebagian warga masih merasakan sesak untuk bernapas akibat kabut asap yang telah masuk sampai ke rumah-rumah warga, bukan hanya di luar.

Sumber : MetroTv.com
Selengkapnya...

Govt to seed clouds for 30 days to fight S. Sumatra forest fires

The South Sumatra provincial administration will launch a weather control program to stop the forest fires and haze that have plagued to province for the last month, according to an official.

The weather modification program will be administered by the Agency for the Assessment and Application of Technology (BPPT) and is expected to last 30 days.

BPPT Artificial Rain division head Heru Widodo said that artificial rain, also known as cloud seeding, was first introduced in Indonesia in 2007 and had proven effective in overcoming haze.

According to the agency’s plan, two CASA C-212-200 planes will be used to spray 1 ton of salt into the air on the first day of the project.

“However, everything depends of the natural conditions. If clouds have fully developed, rain will fall in a matter of minutes. If not, we will fly four times a day to conduct cloud seeding,” Heru told reporters on Monday.

Between one and two tons of salt a day is needed to seed clouds, at a cost of Rp 144 million (about US$17,000). Seven tons of salt have been prepared for the project.

Field coordinator Sunu Tikno said that the salt would be sprayed around potential clouds and, if successful, rain would fall around 120 minutes after seeding.

“Usually, cloud seeding is carried out after 12 noon, as the clouds develop,” he said.

South Sumatra Disaster Mitigation Agency (BPBD) head Yulizar Dinoto said 894 active hot spots have been recorded in the forested areas of several regencies, including Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Banyuasin, Musi Rawas and Muaraenim.

“The fires come from forests, peatlands, bushes and plantations,” he said.

South Sumatra Governor Alex Noerdin urged residents not to set fires, especially in forests, during the dry season, to minimize accidental fires, and threatened stern action against offenders.

Alex said that he was shocked to learn that some plantation companies were not equipped with fire-fighting equipment and personnel and said he would follow up and evaluate the matter.

Separately, the Indonesian Forum for the Environment’s (Walhi) South Sumatra branch deplored statements issued by several regency administrations and government agencies in the province that blamed local residents for the fires.

“The accusations are not objective. Based on actual facts, the central government and the provincial administration were the ones who previously issued licenses to plantation and timber processing companies in the forested and peatland areas,” Walhi’s South Sumatra executive Anwar Sadat said.

According to Walhi, there were 170 hot spots in industrial production forests (HTI) or in areas controlled by estate companies.

“Forest fires in South Sumatra have happened again and again. Warnings from several research institutions seem to have fallen on the deaf ears of the government officials,” Anwar said.

He said artificial rain would only temporarily solve the problem and that a concrete and economic way should be found to limit fires.

Walhi agreed with the ban on resident’s using fire to clear peatlands, Anwar said, adding, however, that such a ban might infringe on the people’s rights.

He said lackluster law enforcement had contributed to the problem

Sumber : The jakarta Post  Selengkapnya...