WALHI adalah forum organisasi Non Pemerintah, Organisasi Masyarakat dan kelompok pecinta Alam terbesar di Indonesia.WALHI bekerja membangun gerakan menuju tranformasi sosial, kedaulatan rakyat dan keberlanjutan Lingkungan Hidup.

Kunjungi Alamat Baru Kami

HEADLINES

  • Pengadilan Tinggi Nyatakan PT. BMH bersalah dan Di Hukum Ganti Rugi
  • Walhi Deklarasikan Desa Ekologis
  •   PT. Musi Hutan Persada/Marubeni Group Dilaporkan ke Komisi Nasional HAM
  • PT.BMH Penjahat Iklim, KLHK Lakukan Kasasi Segera
  • Di Gusur, 909 orang petani dan keluarganya terpaksa mengungsi di masjid, musholla dan tenda-tenda darurat

Sabtu, Juni 14, 2008

Ekspor Karet Sumsel Turun

Friday, 13 June 2008

PALEMBANG(SINDO) – Hingga April, nilai ekspor karet Sumsel mengalami penurunan dari bulan sebelumnya sebesar 55.900 ton menjadi 53.735 ton.

Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel Alex melalui Sekretaris Gapkindo H Awi Aman mengatakan, penurunan disebabkan adanya keterlambatan masuknya kapal pengangkut barang. Namun, dia menyatakan, hal tersebut tidak berpengaruh pada harga karet, sehingga dipastikan tak ada kerugian yang akan dialami pengusaha maupun petani.

“Kita sudah komitmen dengan kontrak yang telah dilakukan bersama antara pengusaha karet dengan pihak ketiga. Jadi, perusahaan dan petani tidak akan rugi,” katanya. Dia mengungkapkan, berdasarkan data Gapkindo Sumsel, harga karet kering untuk free on board(FOB) 80% dijual seharga Rp22.027 per kg. Harga tersebut disesuaikan dengan kisaran kurs US dolar sebesar Rp9.310. Sementara FOB 85% harga karet mencapai Rp23.403.

Penjualan tersebut,kata Awi,merupakan harga taksiran per kilogram karet kering yang dibayar di atas kapal.Menurut Awi, pihak Gapkindo terus berupaya menghindari persaingan yang tidak sehat antara para pengusaha. “Walau sebenarnya hal tersebut sulit untuk dielakkan. Misalnya,siapa tertinggi yang mampu membeli karet petani, maka dialah menang. Tapi, sejauh ini tidak ada masalah dengan persaingan angka tersebut,”ungkapnya.

Dia melanjutkan, angka produksi karet mengalami kenaikan dari 58.730 ton pada Maret menjadi 59.798 untuk April. Hal tersebut disebabkan adanya peningkatan permintaan kebutuhan dari negara luar.“Selain itu, dipengaruhi musim gugur,” ucapnya. Awi menuturkan, Gapkindo Sumsel sangat berharap perhatian pemerintah, terutama masalah pendanaan. Dia menegaskan, selama ini petani kesulitan mendapatkan modal pinjaman dari perbankan untuk pengembangan usaha.

Dia menuturkan, pemerintah diharapkan mampu memfasilitasi dan mempermudah proses pencairan dana yang dibutuhkan petani.“Adanya persyaratan agunan sertifikat tanah menjadi salah satu penyebab sulitnya petani mendapatkan bantuan dana bergulir. Sebab, hampir seluruh petani tidak memiliki sertifikat tanah,” ucapnya.

Sementara itu,Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel H Haslani Haris mengatakan, jika dibanding nilai ekspor periode Januari- –Februari 2007, nilai ekspor komoditas andalan di Sumsel meningkat sebesar 84,89% pada Januari–Februari 2008. Peningkatan ini disebabkan adanya peningkatan secara pesat ekspor komoditas udang sebesar 241,04%.

“Begitu juga untuk nilai ekspor komoditas karet meningkat sebesar 61,30% dibanding periode 2007 lalu.Walau mengalami peningkatan, pemprov terus melakukan upaya kerja sama yang baik dengan berbagai negara,”katanya. (jemi astuti)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/sumatera-selatan/ekspor-karet-sumsel-turun-2.html




Artikel Terkait:

0 komentar: