Friday, 13 June 2008
PAGARALAM (SINDO) – Meskipun kawasan kebun teh Gunung Dempo, milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Kota Pagaralam dipenuhi dengan jutaan pohon teh.
Tetapi, dengan kondisi tekstur tanah yang berbukit-bukit dan kemiringan di atas 30 derajat, membuat kawasan ini kritis dan gampang longsor jika diterjang hujan lantaran rendahnya daya serap air. Apalagi, ada beberapa kawasan seperti daerah aliran sungai (DAS), yang semestinya tidak boleh dirambah.
Tapi,oleh pihak pengelola tetap ditanami teh dan tidak jarang juga kawasan tersebut dijadikan tempat tinggal oleh penduduk. Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Pagaralam Kadir didampingi Plh Kabid Kehutanan M Syarbani mengatakan, meskipun area Gunung Dempo ditanami teh hingga ribuan hektare. Namun, daerah tersebut tetap saja dikategorikan sebagai kawasan kritis.
“Tanaman teh sama halnya dengan tanaman kopi yang akarnya tak untuk menahan tanah dengan kemiringan di atas 30 derajat. Oleh karena itulah kita menilai kawasan kebun teh kritis,”ujarnya. Kadir menjelaskan, kondisi Kota Pagaralam yang pernah dilanda banjir bandang salah satunya seperti yang pernah terjadi di Talang Skuat, disebabkan hutan jati di daerah tersebut dibabat habis dan diganti tanaman teh. Sementara, tanaman teh tidak bisa menahan air dan terjadilah banjir bandang.
“Untuk menanggulangi masalah ini,diharapkan di sekitar kawasan teh, terutama di kawasan pinggiran jalan ditanam pohon perindang. Sementara untuk kawasan daerah aliran sungai (DAS) jangan dirambah dan ditanami teh lagi,”tegasnya. Anggota DPRD Kota Pagaralam Rasmizal mengungkapkan, mengubah daerah perkebunan teh atau kawasan hutan lindung yang berada di kawasan Gunung Dempo menjadi area perkantoran Gunung Gare, juga menjadi salah satu pemicu terjadinya perubahan bentangan alam dan rusaknya ekosistemdikawasantersebut.
Terpisah, Manager PTPN VII Pabrik Perkebunan The Gunung Dempo Armaz Hariadi didampingi Kabag Tata Usaha dan Umum mengatakan, sebagai upaya untuk melakukan penanaman sudah dilakukan di sekitar area perkebunan seperti menanam pohon jenis Bambang, Mahoni dan Kayu Afrika. (yayan darwansah)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/sumatera-selatan/lahan-perkebunan-teh-gunung-dempo-k-2.html
PAGARALAM (SINDO) – Meskipun kawasan kebun teh Gunung Dempo, milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Kota Pagaralam dipenuhi dengan jutaan pohon teh.
Tetapi, dengan kondisi tekstur tanah yang berbukit-bukit dan kemiringan di atas 30 derajat, membuat kawasan ini kritis dan gampang longsor jika diterjang hujan lantaran rendahnya daya serap air. Apalagi, ada beberapa kawasan seperti daerah aliran sungai (DAS), yang semestinya tidak boleh dirambah.
Tapi,oleh pihak pengelola tetap ditanami teh dan tidak jarang juga kawasan tersebut dijadikan tempat tinggal oleh penduduk. Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Pagaralam Kadir didampingi Plh Kabid Kehutanan M Syarbani mengatakan, meskipun area Gunung Dempo ditanami teh hingga ribuan hektare. Namun, daerah tersebut tetap saja dikategorikan sebagai kawasan kritis.
“Tanaman teh sama halnya dengan tanaman kopi yang akarnya tak untuk menahan tanah dengan kemiringan di atas 30 derajat. Oleh karena itulah kita menilai kawasan kebun teh kritis,”ujarnya. Kadir menjelaskan, kondisi Kota Pagaralam yang pernah dilanda banjir bandang salah satunya seperti yang pernah terjadi di Talang Skuat, disebabkan hutan jati di daerah tersebut dibabat habis dan diganti tanaman teh. Sementara, tanaman teh tidak bisa menahan air dan terjadilah banjir bandang.
“Untuk menanggulangi masalah ini,diharapkan di sekitar kawasan teh, terutama di kawasan pinggiran jalan ditanam pohon perindang. Sementara untuk kawasan daerah aliran sungai (DAS) jangan dirambah dan ditanami teh lagi,”tegasnya. Anggota DPRD Kota Pagaralam Rasmizal mengungkapkan, mengubah daerah perkebunan teh atau kawasan hutan lindung yang berada di kawasan Gunung Dempo menjadi area perkantoran Gunung Gare, juga menjadi salah satu pemicu terjadinya perubahan bentangan alam dan rusaknya ekosistemdikawasantersebut.
Terpisah, Manager PTPN VII Pabrik Perkebunan The Gunung Dempo Armaz Hariadi didampingi Kabag Tata Usaha dan Umum mengatakan, sebagai upaya untuk melakukan penanaman sudah dilakukan di sekitar area perkebunan seperti menanam pohon jenis Bambang, Mahoni dan Kayu Afrika. (yayan darwansah)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/sumatera-selatan/lahan-perkebunan-teh-gunung-dempo-k-2.html
Artikel Terkait:
Berita-berita
- Kejahatan Trans National Corporations dalam kebakaran hutan dan lahan di Indonesia Dibawa ke Jenewa
- Jadi Desa Ekologis di Sumsel : Berkonflik Panjang, Nusantara Menjaga Padi dari Kepungan Sawit
- Hari Pangan Se-Dunia, Walhi dan masyarakat Sipil Deklarasikan Nusantara Menuju Desa Ekologis.
- Pidato Sambutan Direktur Walhi Sumsel dalam Peringatan Hari Pangan Se-Dunia dan Deklarasi Nusantara Menuju Desa Ekologis
- Bahaya Hutang Bank Dunia Dalam Proyek KOTAKU
- Melanggar HAM, PT. Musi Hutan Persada/Marubeni Group Dilaporkan ke Komisi Nasional HAM
- Sinarmas Forestry company found guilty of unlawful conduct by High Court over peat fires
- Diduga Rugikan Negara Rp3,6 Triliun, Walhi Laporkan Perusahaan Sawit dan Tambang ke KPK
- Peringati Hari Bumi, Walhi secara Nasional Gelar Karnaval di Palembang
- Indonesia suffers setback in fight against haze after suit rejected
1 komentar:
Kondisi lahan perkebunan Teh sepertinya bukan hanya di daerah Gunung Dempo saja yang bermasalah, tetapi hampir di setiap perkebunan Teh kita. Hal disebabkan oleh rendahnya profit yang diperoleh dari komoditas ini. Tapi itu salah siapa.? Masalahnya India dan Vietnam mampu menempatkan komoditi Teh mereka bersaing di pasaran internasional.
Posting Komentar