PALEMBANG,
- Sejumlah orang yang tergabung dalam Wahana Lingkungan Hidup (WALHI)
Sumsel, Mahasiswa Hijau Indonesia (MHI) dan Serikat Hijau Indonesia
(SHI) Sumsel, Senin (12/11/2012) siang sekitar pukul 13.00 Wib,
mendatangi kantor Pemerintahan Kota Palembang mempertanyakan seringnya
terjadi banjir di kota Palembang sekarang.
Sebelumnya
ke Pemkot Palembang, mereka menyempatkan diri untuk berorasi di depan
Bundaran Air Mancur (BAM), dan kemudian dilanjutkan dengan melakukan
longmarch ke Pemkot Palembang.
Aksi
yang dipandu koordinator aksinya, Gita Mension ini menyinggung Pemkot
Palembang, bahwa hampir keseluruhan warga Kota Palembang saat ini sedang
resah dengan bencana banjir yang tersebar hampir diseluruh wilayah kota
Palembang. Tidak hanya mengganggu kenyamanan saja, banjir juga telah
merugikan perekonomian warga Palembang. Karena sejumlah barang warga
yang terkena banjir banyak yang rusak dan anak-anak pun tak luput
sekolahnya harus diliburkan.
“Penyebab
sesungguhnya permasalahan ini, adalah kebijakan atau perizinan
pemerintah yang merusak kelangsungan lingkungan hidup (LH). Selain itu,
tidak efektifnya drainase yang ada di kota ini termasuk kolam retensi,”
katanya dalam orasi.
Gita
mengingatkan, sangat banyak sekali contoh yag dapat diuraikan dalam
berbagai kegiatan atau usaha yang tidak memiliki izin, sehingga
melanggar ketentuan peraturan lingkungan hidup.
“Di
Kota Palembang, minimnya ruang terbuka hijau (RTH), alih fungsi rawa
secara masif dan tidak efektifnya keberadaan drainase dan kolam retensi
serta sampah-sampah sehingga banjir permanen selalu terjadi, maka dari
itu kami mendesak kepada Pemkot Palembang segera tanggulangi dan atasi
permasalahan banjir, dengan cara memperhatikan berbagai aspek lingkungan
hidup diperkotaan, perluas ruang terbuka hijau, lakukan konservasi rawa
yang tersisa dan benahi sistem drainase,” paparnya.
Sangat
disayangkan, aksi yang dilakukan selama lebih kurang satu jam di
halaman Pemkot Palembang, tak ada satupun perwakilan dari Pemkot
Palembang yang keluar untuk menemui pengunjukrasa.
Sumber : Beritanda.com
Artikel Terkait:
Berita-berita
- Kejahatan Trans National Corporations dalam kebakaran hutan dan lahan di Indonesia Dibawa ke Jenewa
- Jadi Desa Ekologis di Sumsel : Berkonflik Panjang, Nusantara Menjaga Padi dari Kepungan Sawit
- Hari Pangan Se-Dunia, Walhi dan masyarakat Sipil Deklarasikan Nusantara Menuju Desa Ekologis.
- Pidato Sambutan Direktur Walhi Sumsel dalam Peringatan Hari Pangan Se-Dunia dan Deklarasi Nusantara Menuju Desa Ekologis
- Bahaya Hutang Bank Dunia Dalam Proyek KOTAKU
- Melanggar HAM, PT. Musi Hutan Persada/Marubeni Group Dilaporkan ke Komisi Nasional HAM
- Sinarmas Forestry company found guilty of unlawful conduct by High Court over peat fires
- Diduga Rugikan Negara Rp3,6 Triliun, Walhi Laporkan Perusahaan Sawit dan Tambang ke KPK
- Peringati Hari Bumi, Walhi secara Nasional Gelar Karnaval di Palembang
- Indonesia suffers setback in fight against haze after suit rejected
0 komentar:
Posting Komentar