PALEMBANG - Regulasi sudah tepat namun penegakan maling hutan melempem. Itulah yang menurut Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Sumatera Selatan jadi sebab hutan di Sumsel terus tergerus tak terkendali.
Produk perundang-undangan yang ada saat ini sudah cukup tepat meski memang ada yang harus direvisi. Tapi permasalahan yang mendasar aparturnya yang tak pernah tegas bertindak sesuai regulasi,” kata Anwar Sadat Direktur Walhi Sumsel, Senin (8/2). Pernyataan ini menyoroti masalah pembalakan liar dan degradasi hutan di Sumsel yang tak terbendung. Contohnya tangkapan praktik ilegal loging yang diungkap Polres Muaraenim beberapa waktu lalu.
Menurut Sadat, Wajar jika saat ini dari 3,8 juta hektare hutan Sumsel cuma tinggal kurang dari 1 juta saja. Setiap tahun 100 ribu hektare hutan hilang.
Aparatur tak serius, para pelaku punya akses, baik politik maupun modal yang kuat untuk melumpuhkan mereka (aparatur, Red),” katanya. Sadat mengatakan, saat ini sebenarnya hancurnya hutan lebih disebabkan pada praktik pembukaan hutan tanaman industri ataupun konversi hutan untuk lahan perkebunan.
Biasanya dua kegiatan ini berhubungan dengan aktifitas pembalakan liar,” katanya.
Aktifitas pertambangan juga jadi penyumbang besar kerusakan hutan. “Berdasarkan investigasi Walhi tahun 2009 saja sudah sekitar 200 ribu hutan rusak akibat kegiatan pertambangan,” katanya.
Hutan semakin tergerus sehingga bahaya bencana alam semakin mudah datang. Tak heran bila banjir pun selalu saja menyerang Sumsel. Sepanjang tahun 2009 lalu dalam catatan Walhi terjadi 45 kali banjir dan delapan kali tanah longsor.
Proses pembaruan tak sebanding dengan jumlah kerusakannya,” katanya.
Hutan Reboisasi Gundul
Seperti diketahui, ratusan kubik pohon pinus milik Inhutani (negara) yang merupakan hutan hasil reboisasi PT Musi Hutan Persada (MHP), gundul habis dibabat maling. Setidaknya 10 truk kayu bermuatan kayu gelondongan bersama 23 pelaku berhasil diamankan di Mapolres Muaraenim, Minggu (7/2).
Dari pengamatan Sripo di lapangan, kayu tersebut hampir semuanya jenis pinus dimuat dalam 10 truk dengan ukuran sekitar 4 meter. Sedangkan diameter kayu tersebut bervariasi dari mulai 22 sampai 24 cm.
Hutan pinus tersebut sengaja ditanam oleh PT MHP sejak tahun 1978. Atas perbuatan tersebut, para pelaku akan dikenakan pasal 78 UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dengan ancaman 15 tahun penjara atau denda Rp 15 miliar. sripo
Produk perundang-undangan yang ada saat ini sudah cukup tepat meski memang ada yang harus direvisi. Tapi permasalahan yang mendasar aparturnya yang tak pernah tegas bertindak sesuai regulasi,” kata Anwar Sadat Direktur Walhi Sumsel, Senin (8/2). Pernyataan ini menyoroti masalah pembalakan liar dan degradasi hutan di Sumsel yang tak terbendung. Contohnya tangkapan praktik ilegal loging yang diungkap Polres Muaraenim beberapa waktu lalu.
Menurut Sadat, Wajar jika saat ini dari 3,8 juta hektare hutan Sumsel cuma tinggal kurang dari 1 juta saja. Setiap tahun 100 ribu hektare hutan hilang.
Aparatur tak serius, para pelaku punya akses, baik politik maupun modal yang kuat untuk melumpuhkan mereka (aparatur, Red),” katanya. Sadat mengatakan, saat ini sebenarnya hancurnya hutan lebih disebabkan pada praktik pembukaan hutan tanaman industri ataupun konversi hutan untuk lahan perkebunan.
Biasanya dua kegiatan ini berhubungan dengan aktifitas pembalakan liar,” katanya.
Aktifitas pertambangan juga jadi penyumbang besar kerusakan hutan. “Berdasarkan investigasi Walhi tahun 2009 saja sudah sekitar 200 ribu hutan rusak akibat kegiatan pertambangan,” katanya.
Hutan semakin tergerus sehingga bahaya bencana alam semakin mudah datang. Tak heran bila banjir pun selalu saja menyerang Sumsel. Sepanjang tahun 2009 lalu dalam catatan Walhi terjadi 45 kali banjir dan delapan kali tanah longsor.
Proses pembaruan tak sebanding dengan jumlah kerusakannya,” katanya.
Hutan Reboisasi Gundul
Seperti diketahui, ratusan kubik pohon pinus milik Inhutani (negara) yang merupakan hutan hasil reboisasi PT Musi Hutan Persada (MHP), gundul habis dibabat maling. Setidaknya 10 truk kayu bermuatan kayu gelondongan bersama 23 pelaku berhasil diamankan di Mapolres Muaraenim, Minggu (7/2).
Dari pengamatan Sripo di lapangan, kayu tersebut hampir semuanya jenis pinus dimuat dalam 10 truk dengan ukuran sekitar 4 meter. Sedangkan diameter kayu tersebut bervariasi dari mulai 22 sampai 24 cm.
Hutan pinus tersebut sengaja ditanam oleh PT MHP sejak tahun 1978. Atas perbuatan tersebut, para pelaku akan dikenakan pasal 78 UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dengan ancaman 15 tahun penjara atau denda Rp 15 miliar. sripo
Artikel Terkait:
Berita-berita
- Kejahatan Trans National Corporations dalam kebakaran hutan dan lahan di Indonesia Dibawa ke Jenewa
- Jadi Desa Ekologis di Sumsel : Berkonflik Panjang, Nusantara Menjaga Padi dari Kepungan Sawit
- Hari Pangan Se-Dunia, Walhi dan masyarakat Sipil Deklarasikan Nusantara Menuju Desa Ekologis.
- Pidato Sambutan Direktur Walhi Sumsel dalam Peringatan Hari Pangan Se-Dunia dan Deklarasi Nusantara Menuju Desa Ekologis
- Bahaya Hutang Bank Dunia Dalam Proyek KOTAKU
- Melanggar HAM, PT. Musi Hutan Persada/Marubeni Group Dilaporkan ke Komisi Nasional HAM
- Sinarmas Forestry company found guilty of unlawful conduct by High Court over peat fires
- Diduga Rugikan Negara Rp3,6 Triliun, Walhi Laporkan Perusahaan Sawit dan Tambang ke KPK
- Peringati Hari Bumi, Walhi secara Nasional Gelar Karnaval di Palembang
- Indonesia suffers setback in fight against haze after suit rejected
0 komentar:
Posting Komentar