Warga Sribandung Tolak Negoisasi
INDRALAYA - Tekad warga Desa Sribandung Kecamatan
Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir (OI), yang mendesak kembalikan lahan
seluas 2.500 hektare yang dikuasai PTPN VII Cinta Manis merupakan harga
mati. Mereka menolak negoisasi dengan pihak perusahaan yang menginginkan
adanya pertemuan.
“Saya memang sempat dihubungi lewat SMS oleh petinggi PTPN VII Cinta
Manis yang ingin mengadakan pertemuan. Namun langsung saya balas, tidak
ada negoisasi lagi. Permintaan warga hanya kembalikan lahan yang telah
dikuasai 30 tahun silam,” ujar Rusdi Tahar, anggota DPRD Sumsel,
sekaligus putra daerah Sribandung, kemarin.
Menurut Tahar, keinginan warga Sribandung sudah bulat untuk
mendapatkan lahan mereka kembali. Masyarakat inginnya mengolah lahan
untuk dijadikan perkebunan karet dan sudah bosan menjadi buruh
perusahaan yang hanya mendapatkan upah sangat minim.
“Oleh sebab
itu, apa pun yang terjadi mereka bertekad merebut lahan yang masih
dikuasai perusahaan perkebunan tebu tersebut,” ujarnya.
Saat ini warga memberi batas waktu sampai Rabu (23/5), kepada
perusahaan untuk memanen tebu. Jika tiba waktunya belum juga, maka
warga Sribandung telah merencanakan untuk menebang paksa tebu-tebu yang
terhampar dilokasi perkebunan itu. “Muda-mudahan keinginan warga sudah
diketahui perusahaan, sehingga mereka dapat mengambil sikap,” ujar
Tahar.
Sementara Koordinator Gabungan Petani Sribandung Bersatu (GPSB),
Abdul Muis juga menyatakan, saat ini bukan hanya warganya yang melakukan
pematokan lahan, tapi sejumlah warga desa lainnya seperti Betung,
Rengas, Tanjung Atap dan desa lainnya juga berbuat serupa. Sebab, ribuan
hektare lahan mereka juga ikut dicaplok PTPN VII Cinta Manis sejak
dibuka perkebunan tebu sejak 1982 silam.
Hasil pantauan kemarin sore, situasi di rayon III Desa Sribandung
terus dikerumuni warga. Bahkan sejak dua hari lalu, di lokasi tersebut
sudah terpasang tenda sehingga menjadi pusat pertemuan masyarakat.
Selain
itu, tiga portal di tiga titik di sekitar Rayon III menuju
pabrik Cinta
Manis masih terpasang, sehingga aktivitas penggilingan
tebu lumpuh
total. Sebab, puluhan truk yang mengangkut batang tebu
dari lokasi
perkebunan masih tertahan, karena tidak bisa melintas.
Sedangkan Direksi PTPN VII Cinta Manis melalui Kabag Humas, Abdul
Hamid yang sempat dihubungi masih belum mau berkomentar.
“Maaf, kami
masih melakukan rapat belum mau berkomentar,” ujar Abdul Hamid mengelak
saat dimintai konfirmasinya.
Sementara Kapolres OI, AKBP Deni Dharmapala ketika dimintai
keterangan terkait aksi warga mengaku sudah menurunkan puluhan petugas,
terutama sekitar pabrik untuk mengantisipasi aksi anarkis. “Kita tidak
segan-segan bertindak tegas, jika sampai ada aksi pengrusakan atau
anarkis lainnya,” tegas Deni.
Artikel Terkait:
- Kejahatan Trans National Corporations dalam kebakaran hutan dan lahan di Indonesia Dibawa ke Jenewa
- Jadi Desa Ekologis di Sumsel : Berkonflik Panjang, Nusantara Menjaga Padi dari Kepungan Sawit
- Hari Pangan Se-Dunia, Walhi dan masyarakat Sipil Deklarasikan Nusantara Menuju Desa Ekologis.
- Pidato Sambutan Direktur Walhi Sumsel dalam Peringatan Hari Pangan Se-Dunia dan Deklarasi Nusantara Menuju Desa Ekologis
- Bahaya Hutang Bank Dunia Dalam Proyek KOTAKU
- Melanggar HAM, PT. Musi Hutan Persada/Marubeni Group Dilaporkan ke Komisi Nasional HAM
- Sinarmas Forestry company found guilty of unlawful conduct by High Court over peat fires
- Diduga Rugikan Negara Rp3,6 Triliun, Walhi Laporkan Perusahaan Sawit dan Tambang ke KPK
- Peringati Hari Bumi, Walhi secara Nasional Gelar Karnaval di Palembang
- Indonesia suffers setback in fight against haze after suit rejected
- Anwar Sadat Teteskan Air Mata Saat Membacakan Pledoi
- 2014, Produksi Padi di OKI DiprediksiTerancam Menurun
- Masyarakat Tolak HGU Perusahaan
- WALHI Sumsel Desak Pangdam II Sriwijaya Tarik Pasukan dari Rengas
- Petani Desak Cabut HGU Sawit
- Tuntut Kesetaraan Hukum
- Stop Penangkapan Petani
- Walhi: bentuk Komisi Penyelesaian Konflik Agraria
- Petani Desak Penyelesaian Konflik Lahan
- HARI TANI NASIONAL: Konflik Lahan dan Impor Pangan Disorot
0 komentar:
Posting Komentar